Lanjut ke konten

Fiqih dan Ushul Fiqih

Juni 26, 2011

FIQIH DAN USHUL FIQIH
A. MEMAHAMI FIQIH DAN USHUL FIQIH
1. Pengertian Fiqih
Secara etimologi (bahasa) fiqih berasal dari kata faqiha-yafqahu-fiqhan yang berarti mengerti atau faham. Jadi ilmu fiqih ialah suatu ilmu yang mempelajari syariat yang bersifat amaliah (perbuatan) yang diperoleh dari dalil-dalil hukum yang terinci dari ilmu tersebut. Orang yang ahli fiqih disebut faqih, jamaknya fuqaha.
Beberapa definisi ilmu fiqih antara lain :
a. Secara umum definisi ilmu fiqih ialah suatu ilmu yang mempelajari bermacam-macam syariat atau hukum islam dan berbagai macam aturan hidup bagi manusia baik yang bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat social.
b. Ilmu fiqih merupakan suatu kumpulan ilmu yang sangat besar pembahasannya, yang mengumpulkan berbagai ragam jenis hukum islam dan bermacam aturan hidup, untuk keperluan seseorang, golongan dan masyarakat umum.
c. Definisi fiqh yang dikemukakan oleh ustadz Abdul hamid Hakim dalam kitabnya Sulam, antara lain :
 Fiqh menurut bahasa adalah faham, maka tahu aku akan perkataan engkau, artinya faham aku.
 Fiqh menurut istilah ialah mengetahui hukum-hukum agama islam dengan cara atau jalannya ijtihad.

2. Pengertian Ushul Fiqih
Ushul fiqih terdiri dari dua kata yaitu kata ushul dan fiqih, kata ushul merupakan bentuk jamak dari ashl. Kedua kata ini mempunyai pengertian yang luas. Secara etimologi (bahasa) kata ashl diartikan sebagai pondasi dari sesuatu, baik yang bersifat materi maupun bukan. Sedangkan secara terminology (bahasa) kata ashl ini mempunyai beberapa arti yaitu :
1. Dalil, yakni landasan hukum, seperti pernyataan para ulama ushul fiqih bahwa ashl dari wajibnya shalat lima waktu adalah firman Allah SWT dan sunah Rasul.
2. Qa’idah, yaitu dasar atau pondasi atas sesuatu, seperti sabda nabi Muhammad SAW yang artinya :
“islam itu didirikan atas lima ushul (dasar atau pondasi)”.
3. Rajah, yaitu yang terkuat, seperti dalam ungkapan para ahli ushul fiqih : Yang terkuat dari (kandungan) suatu hokum adalah arti hakikatnya. Maksudnya yang menjadi patokan dari setiap perkataan adalah makna hakikat dari perkataan tersebut.
4. Mustashab, yakni memberlakukan hokum yang sudah ada ada sejak semula selama tidak adal dalil yang mengubahnya. Misalnya seseorang yang hilang, apakah ia tetap mendapatkan haknya seperti warisan atau ikatan perkawinannya? Orang tersebut harus dinyatakan masih hidup sebelum ada berita tentang kematiannya. Ia tetap terpelihara haknya seperti tetap mendapatkan waris, begitu juga ikatan perkawinannya dianggap tetap.
5. Far’u (cabang), misalnya anak merupakan cabang dari Ayah.
Secara singkatnya ushul fiqih adalah dasar yang dipakai oleh pikiran manusia untuk membentuk hukum yang mengatur kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat.
Perkataan dasar yang dipergunakan dalam perumusan ini bukanlah dasar dalam pengertian benda (seperti dasar kain untuk sebuah baju misalnya). Akan tetapi dasar ialah bahan-bahan yang dipergunakan oleh pikiran manusia untuk membuat hokum fiqih, yang menjadi dasarnya ialaha :
1. Al-Qur’an
2. Al-Hadits (Sunah Nabi Muhammad SAW )
3. Ra’yu atau akal seperti qiyas dan ijma’

3. Objek Pembahasan dan Tujuan Mempelajari Fiqih dan Ushul Fiqih
a. Objek pembahasan fiqih dan tujuan mempelajarinya
Mempelajari ilmu fiqih besar sekali manfaatnya bagi manusia. Dengan mengatahui ilmu fiqih manusia akan dengan mudah membedakan antara perintah dan larangan Allah SWT. Selain itu ilmu fiqih juga memberikan petunjuk kepada manusia tentang pelaksanaan nikah, thalaq, rujuk dan memelihara jiwa, harta benda serta kehormatan juga mengatahui segala hukum-hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia.
Yang dibahas oleh fiqih ialah perbuatan orang-orang mukallaf, tentunya orang-orang yang telah dibebani ketetapan-ketetapan hukum agama islam, berarti sesuai dengan tujuannya.
Selain itu juga terdapat dua hukum mempelajari ilmu fiqih ini, antara lain :
1. Wajib bagi seluruh umat islam yang mukallaf, seperti mempelajari masalah shalat puasa dan lain-lain.
2. Wajib bagi umat islam yang ada dalam kelompok mereka, seperti mengetahui masalah syarat-syarat menjadi qadhi, masalah pasakh, dan lain-lain.
Secara singkatnya pokok bahasan dari ilmu fiqih ini adalah perbuatan mukallaf menurut apa yang telah ditetapkan syara’ tentang ketentuan hukumnya. Karena itu hal-hal yang dibicarakan dalam ilmu fiqih yaitu tentang perbuatan-perbuatan manusia yang menyangkut hubungannya dengan Tuhan yang dinamakan ibadah, kemudian manusia dengan keluarganya, manusia dengan orang lain dan sebagainya.
Yang menjadi dasar dan pendorong bagi umat islam untuk mempelajari fiqih ialah :
1. Untuk mencari kebiasaan faham dan pengertian dari agama islam
2. Untuk mempelajari hukum-hukum islam yang berhubungan dengan kehidupan manusia
3. Kaum muslimin harus bertafaqquh artinya memperdalam pengetahuan dalam hukum-hukum agama baik dalam bidang aqaid dan akhlak maupun dalam bidang ibadat dan muamalat.
Fiqih dalam islam sangat penting, karena ia menuntun manusia kepada kebaikan dan bertakwa kepada Allah. Setiap saat manusia itu mencari atau mempelajari keutamaan fiqih, karena fiqih, menunjukkan kita kepada sunnah Rasul serta memelihara manusia dari bahaya-bahaya dalam kehidupan . seorang yang mengtahui dan mengamalkan fiqih akan dapat menjaga diri dari kecemaran dan lebih takut dan disegani oleh musuhnya.
Jelasnya tujuan mempelajari ilmu fiqih adalah menerapkan hukum syara’ pada setiap perkataan dan perbuatan mukallaf karena itu ketentuan-ketentuan fiqih itulah yang dipergunakan untuk mmutuskan segala perkara dan menjadi dasar fatwa dan bagi setiap mukallaf akan mengetahui hukum syara pada setiap perbuatan atau perkataan yang mereka lakukan.

b. Objek pembahasan ushul fiqih dan tujuan mempelajarinya
Secara garis besarnya objek pembahasan ushul fiqih dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Sumber hukum dengan semua seluk beluknya
2. Metode pendayagunaan sumberhukum atau metode penggalian hukum dari sumbernya
3. Persyaratan orang yang berwenang melakukan istinbath dengan semua permasalahannya
Sementara itu Muhammad Al-Juhaili merinci objek kajian (pembahsan) ushul fiqih sebagai berikut :
1. Sumber-sumber hukum syara’, baik yang disepakati seperti Al-qur’an dan sunah, maupun yang diperselisihkan seperti istishan dan mashlahah mursalah
2. Pembahasan tentang ijtihad, yakni syarat-syarat dan sifat-sifat orang yang melakukan ijtihad
3. Mencarikan jalan keluar dari dua dalil yang bertentangan secara zahir, ayat dengan ayat atau sunah dengan sunah dan lain-lain baik dengan jalan pengompromian (Al-jam’u wa At-taufiq), menguatkan salah satu 9tarjih), pengguguran salah satu atau kedua dalil yang bertentangan (nasakh/tatsaqut Ad-dalilain)
4. Pembahasan hukum syara’ yang meliputi syarat-syarat dan macam-macamnya, baik yang bersifat tuntutan, larangan, pilihan atau mahkum alaih ( orang yang dibeban) dan lain-lain
5. Pembahasan kaidah-kaidah yang akan digunakan dalam mengistinbath hukum dan cara menggunakannya
Sedangkan tujuan mempelajari ushul fiqih adalah untuk mengetahui hukum-hukum syariat islam dengan jalan yakin (pasti atau dengan jalan zhan (dugaan, perkiraan) dan untuk menghindarkan taklid (mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui alas an-alasannya). Hal ini dapat berlaku, kalau memang benar-benar ushul fiqih ini digunakan menurit mestinya, yaitu mengambil hkum dari soal-soal cabang dari soal-soal yang pokok atau dengan mengembalikan soal-soal cabang dari soal-soal pokok.

4. Perbedaan Fiqih dan Ushul Fiqih
Ushul fiqih merupakan timbangan atau ketentuan untuk istinbat hukum dan objeknya selalu dalil hukum, sementara objek fiqihnya selalu perbuatan mukallaf yang diberi status hukumnya. Walaupun ada titik kesamaan yaitu keduanya merujuk pada dalil, namun konsentrasinya berbeda, yaitu ushul fiqih memandang dalil dari sisi cara penunjukkan atas suatu ketentuan hukum, sedangkan fiqih memandang dalil hanya sebagai rujukannya.
Dengan demikian, dapat daikatakan bahwa dalil sebagai pohon yang dapat melahirkan buah, sedangkan fiqih sebagai buah yang lahir dari pohon tersebut.

B. SEJARAH PEMIKIRAN FIQIH DAN USHUL FIQIH SERTA PERKEMBANGANNYA
1. Sejarah Pemikiran dan Perkembangan Fiqih
Fiqih lahir bersamaan dengan lahirnya agama islam, sebab agama islam itu sendiri adalah kumpulan peratuaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia sesamanya. Karena luasnya aspek yang diatur oleh islam, para ahli membagi ajaran islam ke dalam beberapa bidang seperti bidang akidah, ibadah dan muamalah. Semuanya ini di masa Rasulullah diterangkan di dalam sunahnya.namu pada masa itu sumber fiqih hanya dua yaitu Al-Qur’an dan sunnah.
Di masa sahabat banyak terjadi berbagai peristiwa yang dahulunya belum pernah terjadi. Maka untuk menetapkan hukum terhadap peristiwa yang baru itu para sahabat terpaksa berijtihad, dalam ijtihad ini kadang-kadang terdapat kesepakatan pendapat seperti ini dinamakan ijma’ dan kadang-kadang terjadi perbedaan pendapat yang dinamakan atsar. Para sahabat tidak akan menetapkan hukum suatu perbuatan kecuali memang sudah terjadi, dan hasil ijtihad para sahabt tidak dibukukan. Oleh sebab itu hasil ijtihad mereka belum dapat dikatakan sebagai sebuah ilmu dan para sahabat yang mengeluarkan ijtihad tersebut pun belum dapat dikatakan sebagai fuqaha.
Pada abad kedua dan ketiga hijriah, dikenal dengan masa tabi’in, tabi’it tabi’in dan imam-imam mahzab, daerah yang dikuatkan umat islam makin meluas, banyak bangsa-bangsa yang bukan Arab memeluk islam. Karena itu banyak timbul berbagai kasus baru yang belum pernah terjadi di masa sebelumnya.
Karena kasus baru inilah yang memaksa para fuqaha berijtihad mencari hukum kasus itu, dalam berijtihad mereka bukan saja berbicara yang mungkin terjadi pada masa mendatang. Jadi sumber fiqih pada masa itu disamping Al-Qur’an dan sunnah ditambah lagi dengan sumber lain seperti ijma’, qiyas, istishan, istishab, maslahatul mursalah, mazhab sahabat dan syariat sebelum islam.
Di masa ini dimulai gerakan pembukuan sunnah, fiqih dan berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya. Dalam mencatat fiqih di samping mencatat pendapat juga ditambah dengan dalil pendapat baik Al-Qur’an maupun sunnah atau dari sumber lainnya. Pada masa ini orang yang berkecimpung dalam ilmu fiqih dinamakan fuqaha dan ilmu pengtahuan mereja dinamakan fiqih.
Orang yang pertama kali mengambil inisiatif dalam bidang ini adalah Malik bin Anas yang mengumpulkan sunnah, pendapat para sahabat dan tabi’in, yang dikumpulkan di dalam sebuah kitab yang dinamakan muwatha, yang menjadi pegangan orang hijaz. Imam Abu yusuf menulis beberapa buah kitab tentang fiqih yang menjadi pegangan orang Irak, Imam Muhammad bin Hasan salah seorang murid Abu Hanifah dalam sebuah kitab “zhirur Riwayah” menyusun kitab “Al-um” yang menjadi dasar mazhab syafi’i.
Sesuai dengan perkembangan zaman, maka para ahli fiqih dalam memberikan definisi fiqih juga berubah.
1. definisi fiqih pada abad I (pada masa sahabat), fiqih ialah ilmu pengetahuan yang tidak mudah diketahui oleh masyarakat umum. Sebab untuk mengetahui fiqih atau ilmu fiqih hanya dapat diketahui oleh orang yang mempunyai ilmu agama yang mendalam sehingga mereka dapat membahas dengan meneliti buku-buku yang besar dalam masalah fiqih. Mereka inilah yang disebut liyatafaqqahufiddin yaitu untuk mereka yang bertafaqquh dalam agama islam.
2. Definisi pada Abad II (Masa telah lahirnya mazhab-mazhab), definisi fiqih yang dikemukakan Abu Hanifah, ahli agama dan mujtahid besar dan tertua pada akhir masa sahabat dan tabi’in menyatakan fiqih adalah ilmu yang menerangkan segala hak dan kewajiban.
3. Definisi fiqih menurut para ahli ushul dari ulama-ulama Hanafiah ialah ilmu yang menerangkan segala hak dan kewajiban berhubungan dengan amalan mukallaf
4. Definisi fiqih yang dikemukakan oleh pengikut-pengikut Imam Syafi’I ialah ilmu yang menerangkan segala hukum agama yang berhubungan dengan perbuatan para mukallaf yang digali (diistinbat) dari dalil-dalil yang jelas (tafshily).
5. Definisi fiqih menurut ibnu Khaldun dalam muqaddimah al Mubtada wal khabar islah ilmu yang dengannya diketahui segala hukum Allah yang berhubungan dengan segala pekerjaaan mukallaf baik yang wajib, nadb, makruh dan yang hasrus (mubah) yang diambil (diistinbathkan) dari al-kitab dan as-sunnah dan dari dalil-dalil yang telah ditegaskan syara’. Apabila dikeluarkan hukum-hukum dengan jalan ijtihad dari dalil-dalilnya, maka yang dikeluarkan itu dinamai fiqh.
6. Definisi fiqih menurut jalalul Malali ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara’ yang berhubungan denan amaliyah yang diusahakan memperolehnya dari dalil-dalil yang jelas (tafshili).
7. Definisi Fiqih menurut Al Imam Ibnu Hazm ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syariat yang diambil dari Al-Qur’an dan dari kalam Rasul yang diutus membawa syariat yang hanya daripada hukum-hukum itu. Kita ambil tafsirnya ialah mengetahui hukum-hukum Al-Qur’an, nasikh, mansukh, hukum-hukum perkataan. Rasul, nasikh mansukhnya yang shahih dating dari Rasul dan yang tidak shahih. Dan menerangkan apa yang diijma’kan ulama, apa yang mereka perselisihkan dan bagaimana mengembalikan perselisihan itu kepada Al-Qur’an dan As-sunnah.
9. Definis fiqih menurut Abdul Wahab Khalaf ialah ilmu yang menurut istilah syara’ adalah suatu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum-hukum syara’ 9agama) yang didapatkan dari dalil-dalilnya secara rinci. Atau ilmu fiqih ialah kumpulan dari hukum-hukum syariat (agama) yang amaliyah yang diambil dari dalil-dalil secara rinci.

2. Sejarah Pemikiran dan Perkembangan Ushul fiqih
Hubungan ilmu fiqih dengan ilmu ushul fiqih adalah ilmu fiqih merupakan produk dari ushul fiqih. Ilmu fiqih berkmbang karena berkembanganya ilmu ushul fiqih. Ilmu fiqih bertambah maju manakala ilmu ushul fiqih mengalami kemajuan karena ushul fiqih adalah semaca, ilmu alat yang menjelaskan metode dan system penentuan hukum berdasarkan dalil-dalil naqli maupun aqli.
Dari situ jelas dikatakan bahwasannya ushul fiqih baru lahir pada abad kedua hijriah. Sebagaimana diterangkan di atas bahwa pada abad ini daerah kekuasaan umat islam mekin meluas dan banyak orang yang bukan Arab memluk agama islam. Karena itu banyak menimbulkan kesamaran dalam memahami nash, sehingga dirasa perlu menetapkan kaidah-kaidah bahasa yang dipergunakan dalam membahas nash, maka lahirkah ilmu ushul fiqih, yang menjadi penuntun dalam memahami nash.
Namun semenjak lahirnya ilmu ushul fiqih sebagaimana juga ilmu pengetahuan lainnya baru dalam bentuk yang sederhana pembahasannya masih berserakkan dalam pembahasan dalil yang dikemukakan untuk memperkuat dan mempertahankan pendapat.
Menurut Ibnu nadim dalam kitabnya yang bernama fahrasat bahwa orang yang mula-mula mengumpulkan kaidah-kaidah itu dalam catatan ialah Abu yusuf. Namun sangat sisayangkan catatan ini tidak sampai ke tangan kita. Oleh ahli ushul dianggap yang pertama mengumpulkan dan menyusun ilmu ini adalah imam Syafi’i dalam kitabnya yang bernama Risalah. Dan setelah itu muncullah para penulis lain yang melengkapi dan menyempurnakan seperti Imam Ghazali (505 H) dalam kitabnya yang bernama Al-mustasyfa, Al Amidi 9631 H) dalam kitabnya yang bernama Al Minhaj yang disyaratkan oleh Asnawi.
Dari kalangan Mazhab Hanafi yang terkenal seperti Abu Zai Ad Dabbas (430 H) dalam kitabnya yang bernama Ushul dan Nasafi (790 H), dalam kitabnya yang bernama Al Manar.
Disamping itu lahirlah pula kitab yang bernama kitab Badiun Nizam Al Jami Baina Bazdawi Wal ‘Itisom oleh Muzafaruddin Al Bagdadi Al Hanafi (644 H), kitab tahrir oleh kamal bin Human dan kitab jam’ul Jawani oleh Ibnu Subki.
Di abad sekarang ini ada pula beberapa buah kitab yang ditulis oleh beberapa orang ulama, diantaranya Irsyadul fuhul olehSyaukani (1250 h), kitab ushul fiqih oleh Hudari Bek (1927 M), kitab tahsilul Wushul oleh Muhammad Abdurrahman Mahlawi (1920 M0. Dan masih banyak kitab-kitab Ushul Fiqih yang lainnya.

RUJUKAN
Andewi Suhartini, ushul Fiqih, Jakarta ; Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama republic Indonesia, 2009.
Rachmat Syafe’i, ilmu Ushul Fiqih, Bandung ; Pustaka Setia, 1999.
Syafi’i Karim, Fiqih ushul Fiqih, Bandung ; Pustaka Setia, 2006.

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: