Skip to content

Rumahku Surgaku

RUMAHKU SURGAKU

ISTRI CERDIK YANG SHALIHAH

PENYEJUK MATA PENAWAR PIKIRAN

 Di rumah ia istri, di jalanan ia kawan dan di waktu kita buntu ia adalah sang penunjuk jalan. Betapa bahagianya seorang suami andaikan istrinya adalah sosok yang demikian. Criteria istri saliha adalah seseorang yang menyenangkan jika di dipandang, yang taat ketika diperintah, yang selalu menjaga kehormatannya jika ditinggal, yang membangkitkan semangat dan menghilangkan kebuntuan pikiran.

Upaya-upaya yang harus dilakukan agar sang suami bisa merasakan nyaman berada di rumah sendiri antara lain :

  1. 1.        Menyambut kedatangan suami

Hampir seharian penuh para suami bergulat dengan pekerjaannya, yang tidak jarang diliputi ketegangan-ketegangan. Rasa lelah dan tegang akan terobati manakala saat pulang ke rumah disambut dengan keceriaan anak-anak dan senyum manis istri.

Buku-buku psikologi menyebutkan, para suami akan sangat senang bila diperlakukan bagai raja, dihormati dan diberi perhatian seperti anak-anaknya. Apalagi jika istri turut membantu memperingan pekerjaan suami seperti melepaskan dasi, mencopot sepatu dan membawakan tas ke tempatnya. Memberikan air minum dan melakukan hal-hal yang nampaknya sederhan dan dapat dilakukan suami, juga bukan masalah sepele.

Dengan adanya bantuan istri akan tumbuh perasaan diperhatikan dan kedatangannya memang ditunggu-tunggu keluarganya. Ketika suami sedang istirahat, anak-anak diajak bermain menjauh dari kamar agar keributan dan tangisnya tidak mengusik tidurnya.

 

  1. 2.        Menghindari kata tidak

Setiap bentuk penolakan, apalagi jika ini sering dilakukan akan memukul harga diri suami selaku kepala keluarga. Apalagi menolakkan saat dajak tidur, ini akan menjadi penderitaan bagi suami dan bisa mengganggu konsentrasinya. Reaksi tidak simpatik dan marah tidak saja diberikan oleh suami, juga para malaikat sebagaimana sabda Rasulllah SAW, bahwa jika seorang istri menolak ajakan suaminya ke tempat tidur, kemudian suaminya tertidur daam keadaan marah, maka ia mendapat laknat dari para malaikat sampai pagi harinya.

Tentu saja hal tersebut tidak menjadi alas an bagi para suami untuk mengurangi hak-hak istri beristirahat.

 

  1. 3.        Memperhatikan selera

Pengertian taat pada suami sangat luas, juga menyangkut masalah selera. Jika suami tidak menyukai warna merah, kenapa harus mengikuti selera sendiri dengan mengecat rumah menjadi berwarna merah. Hal tersebut bisa didiskusikan bersama-sama agar tidak terjadi konflik yang mungkin bisa terjadi.

 

  1. 4.        Menjadi pendengar yang baik

Kebanyakan suami akan merasa tentram jika ia dapat mengemukakan isi hati, pikiran dan rencana-rencana dihadapan istrinya. Akan tetapi kebanyakan wanita kurang sabar untuk mendengar pembicaraan suami yang biasanya berisi berita-berita yang bekisar tentang dunianya.

Karena sepanjang hari isi juga aktif dengan kesibukannya mengurus anak, mengurus rumah tangga dan bermasyarakat, seringkali ia juga ingin menceritakan apa saja kepada suaminya dengan cara terburu-buru. Tubrukan informasi ini akan membawa implikasi psikologis bagi laki-laki. Lebih parah kalau akhirnya suami memilih diam karena muncul kesan egois sang istri. Keinginan untuk menyampaikan sesuatu kemudian ditahan dan diendapkan dalam dirinya sendiri, akan menjadi dinamit yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Jika demikian maka kita sendiri yang akan repot karena suami tiba-tiba menjadi pendiam, para istri yang biasanya lebih suka berbicara, tahanlah sejenak bila suami hendak mengemukakan kata hati dan pikirannya. Agar komunikasi bisa nyambung dan menyenangkan tidak ada salahnya mencari bahan referensi yang brekaitan dengan bidang pekerjaan suami dan kesukaan suami.

 

  1. 5.        Adakan perubahan kecil

Hidup yang monoton akan terasa kurang enak, kaku da tidak ada dinamika.adakanlah perubahan letak perabot rumah tangga setiap dua atau tiga bulan sekali. Pergeseran-pergeseran ini akan menciptakan suasana baru sekalipun tidak ada perabot baru. Jangan pelit member surprise kepada suami. Baginya hal itu adalah hadiah dan akan memandang bahwa istrinya memang kretif dan menyenangkan. Surprise yang tepat baik situasi maupun kondisinya dapat memberikan kegembiraan tersendiri.

 

  1. 6.        Dialog – Muhasabah – Berdoa

Tidak ada faedahnya menyimpan catatan-catatan kekecewaan terhadap suami atau istri. Katakana apa yang tidak kita sukai. Ini adalah langkah yang lebih baik daripada menyembunyikan dilubuk hati. Selanjutnya buka suasana saling mengingatkan untuk memperbaiki dan meningkatkan iman guna meraih cinta dari Allah SWT. Boleh jadi dalam hal-hal tertentu kita merasa sudah maksimal memberikan perhatian kepada pasangan, namun ternyata ada yang kurang dalam pandangan Allah SWT yakni keridhaan-Nya.

Sebelum tidur luangkanlah waktu beberapa saat untuk mengevaluasi aktivitas selama sehari. Apa saja yang telah kita lakukan, lebih banyak baik atau sebaliknya. Sikap terhadap suami atau istri, anak maupun tetangga sekitar bagaimana pula. Yang terakhir adalah berdoa, doa memegang peran penting dalam mewujudkan rumah tangga yang surgawi sebagai perekat dan penyubur kasih sayang.

 

Dikutip dari Majalah Hidayatullah edisi Desember 2000.

 

Menang Karena Unggul Bukan Karena Slogan

MENANG KARENA UNGGUL BUKAN KARENA SLOGAN “ Dialah yang mengutus Rasul-ya dengan membawa petunjuk dan agam yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (Ash-Shaaf : 9) Allah mengutus para Nabi dan rasul-Nya ke dunia dengan tugas risalah yang amat jelas. Salah satunya adalah memenangkan islam atas agama-agama dan system hidup lainnya. Al-Qur’an menggunakan istilah “liyuzh-hirahu dari kata zhahara-yuzh-hiru, yang makna asalnya adalah menampakkan, menzhahirkan atau melahirkan. Istilah ini sangat pas untuk menepis kesan negative yang beredar di masyarakat bahwa pemenangan itu berarti mengalahkan, menggusur, meniadakan, menghancurkn, atau kesan negative lainnya. Ibarat lmpu penerang, bisa jadi agama atau system hidup lainnya itu adalah lampu dengan kekuatan 75 watt. Untuk mengalahkannya tidak harus mematikan atau menutupi lampunya, akan tetapi cukup dengan mendatangkan lampu yang mempunyai daya yang lebih besar, 300 watt atau 500 watt, maka dengan sendirinya lampu 75 watt itu menjadi tidak berarti. Demikianlah perumpamaan “Liyuzh-hirahu ‘aladdiini kullih”. Dengan makna seperti itu maka sebenarnya tidak ada orang atau pihak-pihak lain yang dirugikan. Kemenangan seperti itu adalah kemenangan sejati, sebuah kemenangan yang tidak saja bisa dinikmati secara ekslusif oleh pemiliknya, tapi juga secara inklusif oleh semua orang. itulah makna lain dari rahmatn lil ‘alamin (rahmat bgi seluruh alam) dan kaffatan linnaas (melingkupi seluruh manusia). Itulah misi islam yang sebenarnya. Pemahaman seperti itu akan semakin jelas manakala dihubungkan dengan firman Allah yang artinya :] “Dan kataknlah: ‘yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al-Israa : 81). Ketika dunia dikuasai oleh kegelapan (agama atau system lainnya), maka bukanlah berteriak-teriak mengusir kegelapan itu yang dibuktikan dunia. Dunia lebih membutuhkan adanya orang-orang yang menyalakan lampu islam, maka secara otomatis lampu agama dan system hidup lainnya akan menjadi redup. Sebodoh-bodoh orang pasti akan mampu membedakan mana yang terang dan mana yang redup mereka pasti dapat membedakan antar cahaya dan kegelapan. Allah berfirmn yang artinya : “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat? Atau samakah gelap gulita dan terang benderang?” (Ar-ra’d : 16). Islam adalah cahaya, nur atau lampu penerang. “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.” (Al-Maa-idah : 15). Cahaya itu memiliki daya dan kekuatan yang luar biasa karena asalnya dari dzat yang memiliki sifat An-Nuur, sebagaimana firman-Nya : “Allah (pemberi) cahaya kepada langit dan bumi perumpamaan cahaya Allah walaupun tidak disentuh api. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehndaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (An-Nuur : 35). Sayangnya, cahaya yang hebat itu telah kita tutup rapat. Ibarat matahari yang memiliki daya penerang yang luar biasa tertutupi cahayanya oleh awan. Ironisnya awan itu bukan siapa-siapa, tapi umat islam sendiri. Umat islam yang seharusnya bisa memantulkan cahaya justru menjadi penutupnya. Akibatnya, umat islam sendiri kegelapan. Apalagi orang-orang diluar islam. Selama ini ada yang salah pada diri ummat isla. Kebanyakan mereka sibuk hanya meneliti lampunya, tapi lupa memanfaatkan lampu tersebut untuk menerangi jalan agar dirinya dan orang lain terbimbing di jalan yang benar. Akibat terlalu sibuk meneliti lampu itu mereka malah justru terlibat banyak dalam perselisihan. Mata mereka akhirnya juga ikut rabun. Sangat disayangkan, praktik seperti itu masih terus berlangsung hingga kini. Sudah saatnya ummat islam mengubah pandangannya,dari sekedar asyik meneliti kehebatan lampu beralih pada pemanfaatan lampu. Bagaimana kita fokuskan perhatian kit untuk memanfaatkan islam dalam menyorot berbagai persoalan hidup yang actual. Bukankah dalam hidup yang sebntar ini kita diberi amanah untuk menjadi khalifah, pemimpin. Disamping sibuk hanya meneliti lampunya, rupanya ummat islam juga terlalu sibuk memikirkan pihak-pihak lain. Mereka tampaknya kurng menyadari, sesungguhnya letak permasalahannya itu ada pada diri ummat islam sendiri. Adalah wajar jika para musuh islam berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan api islam. Akan tetapi jika kita kuat memegangnya, sesungguhnya tidak ada masalah lagi. Adalah sunatullah jika kaum kafir selalu memusuhi ummat islam . biarkan mereka menjalankan tugasnya, sedang kita menjalankan tugas kita sendiri. Dalam kaitan iniAllah member bimbingan kepada Nabi Muhammad SAW yang tentu saja juga kepada kita, kaum muslimin allah berfirman : “Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.” (Al-Muzzamil :11). Sudah saatnya kini ummat islam lebih bersungguh-sungguh memperhatikan diri sendiri, memaksimalkan kapasitas dan kompetensinya dalam membawa cahaya islam. Program ini memang jangka panjang. Dibutuhkan keteguhan dan kesabaran. Sabar bukan berarti pasif, menunggu atau menerima apa saja yang menimpa pada diri kaum muslimin. Akan tetapi sabar yang dimaksudkan pada ayat ini adalah tidak tergesa-gesa, teliti dalam menyusun program, hati-hati dalam merespon perkembangan dan tidak mudah terpancing provokasi, serta tidak terlalu cepat berharap hasil. Janji-janji kemenangan Allah sudah pasti, tetapi terlalu banyak diantara kita yang tidak sabar menanti. Seolah mereka memaksakan Allah untuk segera memenuhi janji-Nya, sementara mereka belum juga memenuhi kualifikasi untuk menerima kemenangan itu sendiri. Islam dari sononya adalah produk yang unggul, terbaik dan tiada yang dapat menandingi,. Rasulullah menegaskan dalam sabdanya, “ Islam itu tinggi, tiada yang menandingi”. Persoalnya, bagimana cara memasarkan produk unggul tersebut, bagaimana cara meyakinkan orang, da bagaimana membantu jaringan pemasaran yang luas sehingga setiap muslim menjadi distributor berskala internasional, agen professional atau paling tidak pemasar eceran yang efektif. Itulah yang menjadi tugas para Nabi dan Rasul ketika mereka sudah tidak ada, maka tugas itu kemudian beralih kepada kaum muslimin sebagai penerus risalahnya. Tugas meyakinkan orang tentang kehebatan islam sudah sejak lama dirintis para pendahulu kita dengan membangun slogan-slogan yang hebat dan meyakinkan. Tugas itu sudah cukup dengan hasil yang luar biasa, seperti tumbuhnya keyakinan dan kepercayaan diri ummat islam, lahirnya generasi muda millitan dan munculnya berbagai gerakan islam yang lebih percaya diri. Akan tetapi tugas itu belum selesai, islam tidak cukup dibangun dan dipasarkan dengan slogan. Adalah tugas kita saat ini untuk lebih menerjemahkan slogan-slogan itu dalam realitas hidup, dalam praktik dan kehidupan sehari-hari. Di kutip dari Majalah Hidayatullah Edisi Oktober 2003.

Fiqih dan Ushul Fiqih

FIQIH DAN USHUL FIQIH
A. MEMAHAMI FIQIH DAN USHUL FIQIH
1. Pengertian Fiqih
Secara etimologi (bahasa) fiqih berasal dari kata faqiha-yafqahu-fiqhan yang berarti mengerti atau faham. Jadi ilmu fiqih ialah suatu ilmu yang mempelajari syariat yang bersifat amaliah (perbuatan) yang diperoleh dari dalil-dalil hukum yang terinci dari ilmu tersebut. Orang yang ahli fiqih disebut faqih, jamaknya fuqaha.
Beberapa definisi ilmu fiqih antara lain :
a. Secara umum definisi ilmu fiqih ialah suatu ilmu yang mempelajari bermacam-macam syariat atau hukum islam dan berbagai macam aturan hidup bagi manusia baik yang bersifat individu maupun yang berbentuk masyarakat social.
b. Ilmu fiqih merupakan suatu kumpulan ilmu yang sangat besar pembahasannya, yang mengumpulkan berbagai ragam jenis hukum islam dan bermacam aturan hidup, untuk keperluan seseorang, golongan dan masyarakat umum.
c. Definisi fiqh yang dikemukakan oleh ustadz Abdul hamid Hakim dalam kitabnya Sulam, antara lain :
 Fiqh menurut bahasa adalah faham, maka tahu aku akan perkataan engkau, artinya faham aku.
 Fiqh menurut istilah ialah mengetahui hukum-hukum agama islam dengan cara atau jalannya ijtihad.

2. Pengertian Ushul Fiqih
Ushul fiqih terdiri dari dua kata yaitu kata ushul dan fiqih, kata ushul merupakan bentuk jamak dari ashl. Kedua kata ini mempunyai pengertian yang luas. Secara etimologi (bahasa) kata ashl diartikan sebagai pondasi dari sesuatu, baik yang bersifat materi maupun bukan. Sedangkan secara terminology (bahasa) kata ashl ini mempunyai beberapa arti yaitu :
1. Dalil, yakni landasan hukum, seperti pernyataan para ulama ushul fiqih bahwa ashl dari wajibnya shalat lima waktu adalah firman Allah SWT dan sunah Rasul.
2. Qa’idah, yaitu dasar atau pondasi atas sesuatu, seperti sabda nabi Muhammad SAW yang artinya :
“islam itu didirikan atas lima ushul (dasar atau pondasi)”.
3. Rajah, yaitu yang terkuat, seperti dalam ungkapan para ahli ushul fiqih : Yang terkuat dari (kandungan) suatu hokum adalah arti hakikatnya. Maksudnya yang menjadi patokan dari setiap perkataan adalah makna hakikat dari perkataan tersebut.
4. Mustashab, yakni memberlakukan hokum yang sudah ada ada sejak semula selama tidak adal dalil yang mengubahnya. Misalnya seseorang yang hilang, apakah ia tetap mendapatkan haknya seperti warisan atau ikatan perkawinannya? Orang tersebut harus dinyatakan masih hidup sebelum ada berita tentang kematiannya. Ia tetap terpelihara haknya seperti tetap mendapatkan waris, begitu juga ikatan perkawinannya dianggap tetap.
5. Far’u (cabang), misalnya anak merupakan cabang dari Ayah.
Secara singkatnya ushul fiqih adalah dasar yang dipakai oleh pikiran manusia untuk membentuk hukum yang mengatur kehidupan manusia sebagai anggota masyarakat.
Perkataan dasar yang dipergunakan dalam perumusan ini bukanlah dasar dalam pengertian benda (seperti dasar kain untuk sebuah baju misalnya). Akan tetapi dasar ialah bahan-bahan yang dipergunakan oleh pikiran manusia untuk membuat hokum fiqih, yang menjadi dasarnya ialaha :
1. Al-Qur’an
2. Al-Hadits (Sunah Nabi Muhammad SAW )
3. Ra’yu atau akal seperti qiyas dan ijma’

3. Objek Pembahasan dan Tujuan Mempelajari Fiqih dan Ushul Fiqih
a. Objek pembahasan fiqih dan tujuan mempelajarinya
Mempelajari ilmu fiqih besar sekali manfaatnya bagi manusia. Dengan mengatahui ilmu fiqih manusia akan dengan mudah membedakan antara perintah dan larangan Allah SWT. Selain itu ilmu fiqih juga memberikan petunjuk kepada manusia tentang pelaksanaan nikah, thalaq, rujuk dan memelihara jiwa, harta benda serta kehormatan juga mengatahui segala hukum-hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia.
Yang dibahas oleh fiqih ialah perbuatan orang-orang mukallaf, tentunya orang-orang yang telah dibebani ketetapan-ketetapan hukum agama islam, berarti sesuai dengan tujuannya.
Selain itu juga terdapat dua hukum mempelajari ilmu fiqih ini, antara lain :
1. Wajib bagi seluruh umat islam yang mukallaf, seperti mempelajari masalah shalat puasa dan lain-lain.
2. Wajib bagi umat islam yang ada dalam kelompok mereka, seperti mengetahui masalah syarat-syarat menjadi qadhi, masalah pasakh, dan lain-lain.
Secara singkatnya pokok bahasan dari ilmu fiqih ini adalah perbuatan mukallaf menurut apa yang telah ditetapkan syara’ tentang ketentuan hukumnya. Karena itu hal-hal yang dibicarakan dalam ilmu fiqih yaitu tentang perbuatan-perbuatan manusia yang menyangkut hubungannya dengan Tuhan yang dinamakan ibadah, kemudian manusia dengan keluarganya, manusia dengan orang lain dan sebagainya.
Yang menjadi dasar dan pendorong bagi umat islam untuk mempelajari fiqih ialah :
1. Untuk mencari kebiasaan faham dan pengertian dari agama islam
2. Untuk mempelajari hukum-hukum islam yang berhubungan dengan kehidupan manusia
3. Kaum muslimin harus bertafaqquh artinya memperdalam pengetahuan dalam hukum-hukum agama baik dalam bidang aqaid dan akhlak maupun dalam bidang ibadat dan muamalat.
Fiqih dalam islam sangat penting, karena ia menuntun manusia kepada kebaikan dan bertakwa kepada Allah. Setiap saat manusia itu mencari atau mempelajari keutamaan fiqih, karena fiqih, menunjukkan kita kepada sunnah Rasul serta memelihara manusia dari bahaya-bahaya dalam kehidupan . seorang yang mengtahui dan mengamalkan fiqih akan dapat menjaga diri dari kecemaran dan lebih takut dan disegani oleh musuhnya.
Jelasnya tujuan mempelajari ilmu fiqih adalah menerapkan hukum syara’ pada setiap perkataan dan perbuatan mukallaf karena itu ketentuan-ketentuan fiqih itulah yang dipergunakan untuk mmutuskan segala perkara dan menjadi dasar fatwa dan bagi setiap mukallaf akan mengetahui hukum syara pada setiap perbuatan atau perkataan yang mereka lakukan.

b. Objek pembahasan ushul fiqih dan tujuan mempelajarinya
Secara garis besarnya objek pembahasan ushul fiqih dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Sumber hukum dengan semua seluk beluknya
2. Metode pendayagunaan sumberhukum atau metode penggalian hukum dari sumbernya
3. Persyaratan orang yang berwenang melakukan istinbath dengan semua permasalahannya
Sementara itu Muhammad Al-Juhaili merinci objek kajian (pembahsan) ushul fiqih sebagai berikut :
1. Sumber-sumber hukum syara’, baik yang disepakati seperti Al-qur’an dan sunah, maupun yang diperselisihkan seperti istishan dan mashlahah mursalah
2. Pembahasan tentang ijtihad, yakni syarat-syarat dan sifat-sifat orang yang melakukan ijtihad
3. Mencarikan jalan keluar dari dua dalil yang bertentangan secara zahir, ayat dengan ayat atau sunah dengan sunah dan lain-lain baik dengan jalan pengompromian (Al-jam’u wa At-taufiq), menguatkan salah satu 9tarjih), pengguguran salah satu atau kedua dalil yang bertentangan (nasakh/tatsaqut Ad-dalilain)
4. Pembahasan hukum syara’ yang meliputi syarat-syarat dan macam-macamnya, baik yang bersifat tuntutan, larangan, pilihan atau mahkum alaih ( orang yang dibeban) dan lain-lain
5. Pembahasan kaidah-kaidah yang akan digunakan dalam mengistinbath hukum dan cara menggunakannya
Sedangkan tujuan mempelajari ushul fiqih adalah untuk mengetahui hukum-hukum syariat islam dengan jalan yakin (pasti atau dengan jalan zhan (dugaan, perkiraan) dan untuk menghindarkan taklid (mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui alas an-alasannya). Hal ini dapat berlaku, kalau memang benar-benar ushul fiqih ini digunakan menurit mestinya, yaitu mengambil hkum dari soal-soal cabang dari soal-soal yang pokok atau dengan mengembalikan soal-soal cabang dari soal-soal pokok.

4. Perbedaan Fiqih dan Ushul Fiqih
Ushul fiqih merupakan timbangan atau ketentuan untuk istinbat hukum dan objeknya selalu dalil hukum, sementara objek fiqihnya selalu perbuatan mukallaf yang diberi status hukumnya. Walaupun ada titik kesamaan yaitu keduanya merujuk pada dalil, namun konsentrasinya berbeda, yaitu ushul fiqih memandang dalil dari sisi cara penunjukkan atas suatu ketentuan hukum, sedangkan fiqih memandang dalil hanya sebagai rujukannya.
Dengan demikian, dapat daikatakan bahwa dalil sebagai pohon yang dapat melahirkan buah, sedangkan fiqih sebagai buah yang lahir dari pohon tersebut.

B. SEJARAH PEMIKIRAN FIQIH DAN USHUL FIQIH SERTA PERKEMBANGANNYA
1. Sejarah Pemikiran dan Perkembangan Fiqih
Fiqih lahir bersamaan dengan lahirnya agama islam, sebab agama islam itu sendiri adalah kumpulan peratuaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia sesamanya. Karena luasnya aspek yang diatur oleh islam, para ahli membagi ajaran islam ke dalam beberapa bidang seperti bidang akidah, ibadah dan muamalah. Semuanya ini di masa Rasulullah diterangkan di dalam sunahnya.namu pada masa itu sumber fiqih hanya dua yaitu Al-Qur’an dan sunnah.
Di masa sahabat banyak terjadi berbagai peristiwa yang dahulunya belum pernah terjadi. Maka untuk menetapkan hukum terhadap peristiwa yang baru itu para sahabat terpaksa berijtihad, dalam ijtihad ini kadang-kadang terdapat kesepakatan pendapat seperti ini dinamakan ijma’ dan kadang-kadang terjadi perbedaan pendapat yang dinamakan atsar. Para sahabat tidak akan menetapkan hukum suatu perbuatan kecuali memang sudah terjadi, dan hasil ijtihad para sahabt tidak dibukukan. Oleh sebab itu hasil ijtihad mereka belum dapat dikatakan sebagai sebuah ilmu dan para sahabat yang mengeluarkan ijtihad tersebut pun belum dapat dikatakan sebagai fuqaha.
Pada abad kedua dan ketiga hijriah, dikenal dengan masa tabi’in, tabi’it tabi’in dan imam-imam mahzab, daerah yang dikuatkan umat islam makin meluas, banyak bangsa-bangsa yang bukan Arab memeluk islam. Karena itu banyak timbul berbagai kasus baru yang belum pernah terjadi di masa sebelumnya.
Karena kasus baru inilah yang memaksa para fuqaha berijtihad mencari hukum kasus itu, dalam berijtihad mereka bukan saja berbicara yang mungkin terjadi pada masa mendatang. Jadi sumber fiqih pada masa itu disamping Al-Qur’an dan sunnah ditambah lagi dengan sumber lain seperti ijma’, qiyas, istishan, istishab, maslahatul mursalah, mazhab sahabat dan syariat sebelum islam.
Di masa ini dimulai gerakan pembukuan sunnah, fiqih dan berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya. Dalam mencatat fiqih di samping mencatat pendapat juga ditambah dengan dalil pendapat baik Al-Qur’an maupun sunnah atau dari sumber lainnya. Pada masa ini orang yang berkecimpung dalam ilmu fiqih dinamakan fuqaha dan ilmu pengtahuan mereja dinamakan fiqih.
Orang yang pertama kali mengambil inisiatif dalam bidang ini adalah Malik bin Anas yang mengumpulkan sunnah, pendapat para sahabat dan tabi’in, yang dikumpulkan di dalam sebuah kitab yang dinamakan muwatha, yang menjadi pegangan orang hijaz. Imam Abu yusuf menulis beberapa buah kitab tentang fiqih yang menjadi pegangan orang Irak, Imam Muhammad bin Hasan salah seorang murid Abu Hanifah dalam sebuah kitab “zhirur Riwayah” menyusun kitab “Al-um” yang menjadi dasar mazhab syafi’i.
Sesuai dengan perkembangan zaman, maka para ahli fiqih dalam memberikan definisi fiqih juga berubah.
1. definisi fiqih pada abad I (pada masa sahabat), fiqih ialah ilmu pengetahuan yang tidak mudah diketahui oleh masyarakat umum. Sebab untuk mengetahui fiqih atau ilmu fiqih hanya dapat diketahui oleh orang yang mempunyai ilmu agama yang mendalam sehingga mereka dapat membahas dengan meneliti buku-buku yang besar dalam masalah fiqih. Mereka inilah yang disebut liyatafaqqahufiddin yaitu untuk mereka yang bertafaqquh dalam agama islam.
2. Definisi pada Abad II (Masa telah lahirnya mazhab-mazhab), definisi fiqih yang dikemukakan Abu Hanifah, ahli agama dan mujtahid besar dan tertua pada akhir masa sahabat dan tabi’in menyatakan fiqih adalah ilmu yang menerangkan segala hak dan kewajiban.
3. Definisi fiqih menurut para ahli ushul dari ulama-ulama Hanafiah ialah ilmu yang menerangkan segala hak dan kewajiban berhubungan dengan amalan mukallaf
4. Definisi fiqih yang dikemukakan oleh pengikut-pengikut Imam Syafi’I ialah ilmu yang menerangkan segala hukum agama yang berhubungan dengan perbuatan para mukallaf yang digali (diistinbat) dari dalil-dalil yang jelas (tafshily).
5. Definisi fiqih menurut ibnu Khaldun dalam muqaddimah al Mubtada wal khabar islah ilmu yang dengannya diketahui segala hukum Allah yang berhubungan dengan segala pekerjaaan mukallaf baik yang wajib, nadb, makruh dan yang hasrus (mubah) yang diambil (diistinbathkan) dari al-kitab dan as-sunnah dan dari dalil-dalil yang telah ditegaskan syara’. Apabila dikeluarkan hukum-hukum dengan jalan ijtihad dari dalil-dalilnya, maka yang dikeluarkan itu dinamai fiqh.
6. Definisi fiqih menurut jalalul Malali ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara’ yang berhubungan denan amaliyah yang diusahakan memperolehnya dari dalil-dalil yang jelas (tafshili).
7. Definisi Fiqih menurut Al Imam Ibnu Hazm ialah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syariat yang diambil dari Al-Qur’an dan dari kalam Rasul yang diutus membawa syariat yang hanya daripada hukum-hukum itu. Kita ambil tafsirnya ialah mengetahui hukum-hukum Al-Qur’an, nasikh, mansukh, hukum-hukum perkataan. Rasul, nasikh mansukhnya yang shahih dating dari Rasul dan yang tidak shahih. Dan menerangkan apa yang diijma’kan ulama, apa yang mereka perselisihkan dan bagaimana mengembalikan perselisihan itu kepada Al-Qur’an dan As-sunnah.
9. Definis fiqih menurut Abdul Wahab Khalaf ialah ilmu yang menurut istilah syara’ adalah suatu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum-hukum syara’ 9agama) yang didapatkan dari dalil-dalilnya secara rinci. Atau ilmu fiqih ialah kumpulan dari hukum-hukum syariat (agama) yang amaliyah yang diambil dari dalil-dalil secara rinci.

2. Sejarah Pemikiran dan Perkembangan Ushul fiqih
Hubungan ilmu fiqih dengan ilmu ushul fiqih adalah ilmu fiqih merupakan produk dari ushul fiqih. Ilmu fiqih berkmbang karena berkembanganya ilmu ushul fiqih. Ilmu fiqih bertambah maju manakala ilmu ushul fiqih mengalami kemajuan karena ushul fiqih adalah semaca, ilmu alat yang menjelaskan metode dan system penentuan hukum berdasarkan dalil-dalil naqli maupun aqli.
Dari situ jelas dikatakan bahwasannya ushul fiqih baru lahir pada abad kedua hijriah. Sebagaimana diterangkan di atas bahwa pada abad ini daerah kekuasaan umat islam mekin meluas dan banyak orang yang bukan Arab memluk agama islam. Karena itu banyak menimbulkan kesamaran dalam memahami nash, sehingga dirasa perlu menetapkan kaidah-kaidah bahasa yang dipergunakan dalam membahas nash, maka lahirkah ilmu ushul fiqih, yang menjadi penuntun dalam memahami nash.
Namun semenjak lahirnya ilmu ushul fiqih sebagaimana juga ilmu pengetahuan lainnya baru dalam bentuk yang sederhana pembahasannya masih berserakkan dalam pembahasan dalil yang dikemukakan untuk memperkuat dan mempertahankan pendapat.
Menurut Ibnu nadim dalam kitabnya yang bernama fahrasat bahwa orang yang mula-mula mengumpulkan kaidah-kaidah itu dalam catatan ialah Abu yusuf. Namun sangat sisayangkan catatan ini tidak sampai ke tangan kita. Oleh ahli ushul dianggap yang pertama mengumpulkan dan menyusun ilmu ini adalah imam Syafi’i dalam kitabnya yang bernama Risalah. Dan setelah itu muncullah para penulis lain yang melengkapi dan menyempurnakan seperti Imam Ghazali (505 H) dalam kitabnya yang bernama Al-mustasyfa, Al Amidi 9631 H) dalam kitabnya yang bernama Al Minhaj yang disyaratkan oleh Asnawi.
Dari kalangan Mazhab Hanafi yang terkenal seperti Abu Zai Ad Dabbas (430 H) dalam kitabnya yang bernama Ushul dan Nasafi (790 H), dalam kitabnya yang bernama Al Manar.
Disamping itu lahirlah pula kitab yang bernama kitab Badiun Nizam Al Jami Baina Bazdawi Wal ‘Itisom oleh Muzafaruddin Al Bagdadi Al Hanafi (644 H), kitab tahrir oleh kamal bin Human dan kitab jam’ul Jawani oleh Ibnu Subki.
Di abad sekarang ini ada pula beberapa buah kitab yang ditulis oleh beberapa orang ulama, diantaranya Irsyadul fuhul olehSyaukani (1250 h), kitab ushul fiqih oleh Hudari Bek (1927 M), kitab tahsilul Wushul oleh Muhammad Abdurrahman Mahlawi (1920 M0. Dan masih banyak kitab-kitab Ushul Fiqih yang lainnya.

RUJUKAN
Andewi Suhartini, ushul Fiqih, Jakarta ; Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama republic Indonesia, 2009.
Rachmat Syafe’i, ilmu Ushul Fiqih, Bandung ; Pustaka Setia, 1999.
Syafi’i Karim, Fiqih ushul Fiqih, Bandung ; Pustaka Setia, 2006.

Anak (bagaikan melukis di atas kertas)

Yang-Dibutuhkan-Anak

ANAK

BAGAIKAN MELUKIS DI ATAS KERTAS PUTIH

Anak adalah titipan Allah yang kehadirannya selalu dinantikan pasangan suami istri. Anak diumpakan sebagai kertas putih yang belum tergores coretan tinta dari tangan pelukisnya. Baik dan buruk anak tergantung dari bagaimana orang tuanya mendidik anak tersebut. Jika orang tua mendidik dengan rasa cinta dan selalu mengajarkannya tentang kehidupan dengan bahasa yang halus, maka yakinlah anak tersebut akan menjadi perhiasan yang akan menghiasi hidup dengan  akhlaknya. Sebaliknya jika anak tersebut dididik dengan cara yang salah dan orang tua selalu kasar terhadapnya. Maka yakin dan percayalah anak tersebut akan menjadi sosok yang liar.

Anak adalah perhiasan sekaligus ujian bagi para orang tuanya. Ia akan menjadi perhiasan karena kehadirannya akan membawa perubahan dalam sebuah keluarga, kehadirannya merupakan penyemarak dalam hidup setiap orang. namun anak juga merupakan sebuah ujian bagi kedua orang tuanya. Jadi, orangtua mempunyai kewajiban mendidik anaknya, agar anak tidak melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki orang tua.

  

TIPS MENGAJAR ANAK DENGAN CINTA

  1. Siapkan menu

Siapkanlah menu pembelajaran dengan baik.

  1. Hargai siswa

Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil. Hargai anak sebagaimana mereka adalah sosok anak. Bawalah dunia anda ke dunia mereka. Tiap ucapan anak adalah emas jadi perlu direspon dengan emas pula.

  1. Tersenyumlah

Jika anda tersenyum dengan anak, dia akan memberikan cinta 100 kalinya sebagai pembalasan senyum itu. Kemudian senyuman anda akan disimpannya dalam memorinya. Memori itu pada akhirnya akan melejitkan potensi diri anak itu sendiri. Senyum adalah multivitamin yang mampu menggairahkan kejiwaan anak.

  1. Jadilah actor

Ketika di kelas, jadilah actor yang mampu menawan murid. Gunakan tangan, hentakan kaki, lirikan, mimic, intonasi suara secara terpadu. Actor yang baik akan mampu membenamkan kepedulian penontonnya untuk terus terkesima sambil memahami maknanya.

  1. Bersahabatlah dengan mereka

Cinta bukan sebuah paksaan. Ia lahir dari sebuah perasaan yang tulus, kehadiranya pun tidak diundang, perginya pun tiada yang merelakan. Persahabatan biasanya berakhir dengan percintaan tetapi percintaan tiadak pernah berakhir dengan persahabatan. Bersahabatlah dengan anak secara tulus. Sepanjang hidupnya, anak akan secara tulus mengingat persahabatan tersebut.

di kutip dari Majalah Smart kids.

 

ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN

Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:

ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ

“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia “(QS. Al-Kahfi:46)
Ya tentu saja, anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Betapa jiwa kita merasa bahagia menyaksikan mereka dan hati pun bergembira saat bercanda ria dengan mereka.

Namun waspadalah, sebab anak adalah fitnah (ujian).

Dan Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:

إِنَّمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَأَوۡلَـٰدُكُمۡ فِتۡنَةٌ۬‌ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُ ۥۤ أَجۡرٌ عَظِيمٌ۬

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. At-Taghaabun:15)

Jangan kita terpedaya! Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allooh Subhannahu Ta’ala. Ia menjadi angkuh dan berbangga diri karena anaknya, merasa paling tinggi dari orang lain. Ia sombong dan takabbur, bahkan merendahkan orang lain dan berlaku aniaya. Maka hal itu hanya mengantarkannya ke neraka.
Simak firman Allooh Subhannahu Ta’ala berikut ini:

(وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِى قَرۡيَةٍ۬ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ (٣٤

(وَقَالُواْ نَحۡنُ أَڪۡثَرُ أَمۡوَٲلاً۬ وَأَوۡلَـٰدً۬ا وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ (٣٥

(قُلۡ إِنَّ رَبِّى يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ (٣٦

وَمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُكُم بِٱلَّتِى تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ

(لَهُمۡ جَزَآءُ ٱلضِّعۡفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُمۡ فِى ٱلۡغُرُفَـٰتِ ءَامِنُونَ (٣٧

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:”Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”.

Dan mereka berkata:”Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan di azab”.

Katakanlah:”Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah itu yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam jannah). (QS. Saba’: 34-37)

Anak, kerap kali mendorong ayah untuk meghalalkan usaha yang haram. Demi masa depan anak katanya… Ia pun berusaha keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dengan segala cara, sekalipun ia harus mendzhalimi yang lemah, memusuhi manusia atau memutus tali silaturrahim.

Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang kepadanya seraya berkata,”Anakmu tadi minta ini dan itu! Maka demi anaknya, ia pun urung menginfakkan hartanya di jalan Allooh Subhannahu Ta’ala. Padahal yang diminta oleh anaknya itu bukanlah suatu kebutuhan primer.

Benarlah sabda Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam:

“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut, jahil dan bersedih.” (HR. Al-Hakim (5284) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’(1990))

Ketika ia harus mengatakan kalimat yang hak, ia berfikir dua kali. Ia takut petaka akan menimpa dirinya dan anak kesayangannya. Ia pun memilih diam daripada menyampaikan kebenaran.

Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh, melanggar syari’at agama dengan ucapan maupun perbuatannya, mengugat takdir Allooh dan tidak menerima ketetapan-Nya. Ia pun membawa anaknya ke dukun padahal Nabi melarang pebuatannya itu

Yang parah lagi, ada pula anak yang mendorong orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran, Wallaahul musta’an.

Perhatikanlah orang yang tertipu disebabkan anak-anaknya dan tidak mensyukuri nikmat Allooh ini! Ia adalah seorang kafir Makkah bernama Khalid bin Mughirah. Allooh Subhannahu Ta’ala berkata tentangnya:

 

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.

Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak,

dan anak-anak yang selalu bersama dia,

dan Ku-lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,

kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya.

Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur’an).

Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. (QS. Al-Muddatstsir: 11-17)
Dia adalah lelaki yang dikarunia anak-anak dan Allooh menjadikan ia selalu bersama mereka untuk mengais rizki. Bahkan rizki lah yang mengelilinginya. Dan anak-anaknya senantiasa berada di sisi nya menjadi hiburan baginya. Walau demikian, ia tidak mensyukuri nikmat Allooh, bahkan dibalasnya dengan kekufuran. Akibatnya, Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:

Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.

Tahukah kamu apa (naar) Saqar itu

Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.

(Naar Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (QS. Al-Muddatstsir: 26-29)

 

Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari fitnah (godaan) ini? Jadikanlah cinta pertama kita untuk Allooh Subhannahu Ta’ala. Jadikan manusia yang paling kita cintai adalah Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allooh dalam mengurus mereka.

Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam mengajarkan bahwa di antara yang dapat menghapuskan keburukan akibat godaan anak adalah mengerjakan sholat, puasa, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar. Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam bersabda:
“Gangguan menimpa seseorang disebabkan keluarga, harta, anak, diri dan tetangganya dapat dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Walloohu a’lam bish showab.

dikutip dari www.google.com. http://jilbab.or.id/archives/979-anak-perhiasan-sekaligus-ujian/.

PERANAN ORANG TUA

Orang tua memiliki peranan besar dalam mengubah fitrah seorang anak. Dia bisa menjadi sebab bagi anak menjadi orang yang celaka di dunia dan akhirat, dan bisa menjadi sebab bagi anak menjadi orang yang selamat di dunia dan akhirat. Tentu semua itu tidak terlepas dari takdir Allah SWT.

  1. Sebagian Orang tua menyeru buah hatinya menuju kekufuran

Diantara orang tua, ada yang dnegan sengaja menyeru anaknya menuju kekufuran kepada Allah SWT dan menuju kesesatan dengan tidak sedikit disertakan ancamn-ancamn, pembunuhan, pengucilan, pengusiran, penyiksaan dan sebagainya. Rasulullah telah menggambarkan yang demikian di dalm sabdanya yang artinya :

Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (kesucian), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia yahudi atau Nasrani atau Majusi (HR. Al-Bukhari).

  1. Sebagian orang tua menyeru menuju kebahagiaan hidup di atas iman

Allah menceritakan dalam Al-Qur’an tentang Nabi Nuh :

Dan Nuh berkata : Naiklah kamu sekalian ke dalamnya (perahu) dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar maha pngampun lagi maha penyayang. Dan bahtera itu berlayar dan membawa mereka dalam gelombang laksana gunung dan Nuh memanggil anaknya, sesungguhnya anaknya berada di tempat yang jauh terpncil. Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.

Kedua jenis seruan di atas terkait dengan keputusan dan ketentuan Allah terhadap diri sang anak, artinya kedua orang tua bagaimana pun dia mengusahakan agar anknya kafir, tetapi dia tidak sanggup bila tidak ada ijin dari Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, setinggi apapun usaha keduanya agar anaknya menjadi orang yang shalih, bila tidak ada ijin dari Allah SWT maka keduanya tidak akan sanggup.

Di kutip dari majalah Asy Syariah

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.