Skip to content

Anak (bagaikan melukis di atas kertas)

Juni 26, 2011
Yang-Dibutuhkan-Anak

ANAK

BAGAIKAN MELUKIS DI ATAS KERTAS PUTIH

Anak adalah titipan Allah yang kehadirannya selalu dinantikan pasangan suami istri. Anak diumpakan sebagai kertas putih yang belum tergores coretan tinta dari tangan pelukisnya. Baik dan buruk anak tergantung dari bagaimana orang tuanya mendidik anak tersebut. Jika orang tua mendidik dengan rasa cinta dan selalu mengajarkannya tentang kehidupan dengan bahasa yang halus, maka yakinlah anak tersebut akan menjadi perhiasan yang akan menghiasi hidup dengan  akhlaknya. Sebaliknya jika anak tersebut dididik dengan cara yang salah dan orang tua selalu kasar terhadapnya. Maka yakin dan percayalah anak tersebut akan menjadi sosok yang liar.

Anak adalah perhiasan sekaligus ujian bagi para orang tuanya. Ia akan menjadi perhiasan karena kehadirannya akan membawa perubahan dalam sebuah keluarga, kehadirannya merupakan penyemarak dalam hidup setiap orang. namun anak juga merupakan sebuah ujian bagi kedua orang tuanya. Jadi, orangtua mempunyai kewajiban mendidik anaknya, agar anak tidak melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki orang tua.

  

TIPS MENGAJAR ANAK DENGAN CINTA

  1. Siapkan menu

Siapkanlah menu pembelajaran dengan baik.

  1. Hargai siswa

Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil. Hargai anak sebagaimana mereka adalah sosok anak. Bawalah dunia anda ke dunia mereka. Tiap ucapan anak adalah emas jadi perlu direspon dengan emas pula.

  1. Tersenyumlah

Jika anda tersenyum dengan anak, dia akan memberikan cinta 100 kalinya sebagai pembalasan senyum itu. Kemudian senyuman anda akan disimpannya dalam memorinya. Memori itu pada akhirnya akan melejitkan potensi diri anak itu sendiri. Senyum adalah multivitamin yang mampu menggairahkan kejiwaan anak.

  1. Jadilah actor

Ketika di kelas, jadilah actor yang mampu menawan murid. Gunakan tangan, hentakan kaki, lirikan, mimic, intonasi suara secara terpadu. Actor yang baik akan mampu membenamkan kepedulian penontonnya untuk terus terkesima sambil memahami maknanya.

  1. Bersahabatlah dengan mereka

Cinta bukan sebuah paksaan. Ia lahir dari sebuah perasaan yang tulus, kehadiranya pun tidak diundang, perginya pun tiada yang merelakan. Persahabatan biasanya berakhir dengan percintaan tetapi percintaan tiadak pernah berakhir dengan persahabatan. Bersahabatlah dengan anak secara tulus. Sepanjang hidupnya, anak akan secara tulus mengingat persahabatan tersebut.

di kutip dari Majalah Smart kids.

 

ANAK, PERHIASAN SEKALIGUS UJIAN

Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:

ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ

“Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia “(QS. Al-Kahfi:46)
Ya tentu saja, anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Betapa jiwa kita merasa bahagia menyaksikan mereka dan hati pun bergembira saat bercanda ria dengan mereka.

Namun waspadalah, sebab anak adalah fitnah (ujian).

Dan Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:

إِنَّمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَأَوۡلَـٰدُكُمۡ فِتۡنَةٌ۬‌ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُ ۥۤ أَجۡرٌ عَظِيمٌ۬

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. At-Taghaabun:15)

Jangan kita terpedaya! Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat Allooh Subhannahu Ta’ala. Ia menjadi angkuh dan berbangga diri karena anaknya, merasa paling tinggi dari orang lain. Ia sombong dan takabbur, bahkan merendahkan orang lain dan berlaku aniaya. Maka hal itu hanya mengantarkannya ke neraka.
Simak firman Allooh Subhannahu Ta’ala berikut ini:

(وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِى قَرۡيَةٍ۬ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ (٣٤

(وَقَالُواْ نَحۡنُ أَڪۡثَرُ أَمۡوَٲلاً۬ وَأَوۡلَـٰدً۬ا وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ (٣٥

(قُلۡ إِنَّ رَبِّى يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ وَلَـٰكِنَّ أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ (٣٦

وَمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُكُم بِٱلَّتِى تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ

(لَهُمۡ جَزَآءُ ٱلضِّعۡفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُمۡ فِى ٱلۡغُرُفَـٰتِ ءَامِنُونَ (٣٧

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:”Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”.

Dan mereka berkata:”Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan di azab”.

Katakanlah:”Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah itu yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam jannah). (QS. Saba’: 34-37)

Anak, kerap kali mendorong ayah untuk meghalalkan usaha yang haram. Demi masa depan anak katanya… Ia pun berusaha keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dengan segala cara, sekalipun ia harus mendzhalimi yang lemah, memusuhi manusia atau memutus tali silaturrahim.

Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang kepadanya seraya berkata,”Anakmu tadi minta ini dan itu! Maka demi anaknya, ia pun urung menginfakkan hartanya di jalan Allooh Subhannahu Ta’ala. Padahal yang diminta oleh anaknya itu bukanlah suatu kebutuhan primer.

Benarlah sabda Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam:

“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut, jahil dan bersedih.” (HR. Al-Hakim (5284) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’(1990))

Ketika ia harus mengatakan kalimat yang hak, ia berfikir dua kali. Ia takut petaka akan menimpa dirinya dan anak kesayangannya. Ia pun memilih diam daripada menyampaikan kebenaran.

Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh, melanggar syari’at agama dengan ucapan maupun perbuatannya, mengugat takdir Allooh dan tidak menerima ketetapan-Nya. Ia pun membawa anaknya ke dukun padahal Nabi melarang pebuatannya itu

Yang parah lagi, ada pula anak yang mendorong orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran, Wallaahul musta’an.

Perhatikanlah orang yang tertipu disebabkan anak-anaknya dan tidak mensyukuri nikmat Allooh ini! Ia adalah seorang kafir Makkah bernama Khalid bin Mughirah. Allooh Subhannahu Ta’ala berkata tentangnya:

 

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.

Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak,

dan anak-anak yang selalu bersama dia,

dan Ku-lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,

kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya.

Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur’an).

Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. (QS. Al-Muddatstsir: 11-17)
Dia adalah lelaki yang dikarunia anak-anak dan Allooh menjadikan ia selalu bersama mereka untuk mengais rizki. Bahkan rizki lah yang mengelilinginya. Dan anak-anaknya senantiasa berada di sisi nya menjadi hiburan baginya. Walau demikian, ia tidak mensyukuri nikmat Allooh, bahkan dibalasnya dengan kekufuran. Akibatnya, Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:

Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.

Tahukah kamu apa (naar) Saqar itu

Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.

(Naar Saqar) adalah pembakar kulit manusia. (QS. Al-Muddatstsir: 26-29)

 

Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari fitnah (godaan) ini? Jadikanlah cinta pertama kita untuk Allooh Subhannahu Ta’ala. Jadikan manusia yang paling kita cintai adalah Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allooh dalam mengurus mereka.

Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam mengajarkan bahwa di antara yang dapat menghapuskan keburukan akibat godaan anak adalah mengerjakan sholat, puasa, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar. Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam bersabda:
“Gangguan menimpa seseorang disebabkan keluarga, harta, anak, diri dan tetangganya dapat dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Walloohu a’lam bish showab.

dikutip dari www.google.com. http://jilbab.or.id/archives/979-anak-perhiasan-sekaligus-ujian/.

PERANAN ORANG TUA

Orang tua memiliki peranan besar dalam mengubah fitrah seorang anak. Dia bisa menjadi sebab bagi anak menjadi orang yang celaka di dunia dan akhirat, dan bisa menjadi sebab bagi anak menjadi orang yang selamat di dunia dan akhirat. Tentu semua itu tidak terlepas dari takdir Allah SWT.

  1. Sebagian Orang tua menyeru buah hatinya menuju kekufuran

Diantara orang tua, ada yang dnegan sengaja menyeru anaknya menuju kekufuran kepada Allah SWT dan menuju kesesatan dengan tidak sedikit disertakan ancamn-ancamn, pembunuhan, pengucilan, pengusiran, penyiksaan dan sebagainya. Rasulullah telah menggambarkan yang demikian di dalm sabdanya yang artinya :

Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (kesucian), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia yahudi atau Nasrani atau Majusi (HR. Al-Bukhari).

  1. Sebagian orang tua menyeru menuju kebahagiaan hidup di atas iman

Allah menceritakan dalam Al-Qur’an tentang Nabi Nuh :

Dan Nuh berkata : Naiklah kamu sekalian ke dalamnya (perahu) dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar maha pngampun lagi maha penyayang. Dan bahtera itu berlayar dan membawa mereka dalam gelombang laksana gunung dan Nuh memanggil anaknya, sesungguhnya anaknya berada di tempat yang jauh terpncil. Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir.

Kedua jenis seruan di atas terkait dengan keputusan dan ketentuan Allah terhadap diri sang anak, artinya kedua orang tua bagaimana pun dia mengusahakan agar anknya kafir, tetapi dia tidak sanggup bila tidak ada ijin dari Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, setinggi apapun usaha keduanya agar anaknya menjadi orang yang shalih, bila tidak ada ijin dari Allah SWT maka keduanya tidak akan sanggup.

Di kutip dari majalah Asy Syariah

 

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: