Skip to content

Menang Karena Unggul Bukan Karena Slogan

Juni 26, 2011

MENANG KARENA UNGGUL BUKAN KARENA SLOGAN “ Dialah yang mengutus Rasul-ya dengan membawa petunjuk dan agam yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (Ash-Shaaf : 9) Allah mengutus para Nabi dan rasul-Nya ke dunia dengan tugas risalah yang amat jelas. Salah satunya adalah memenangkan islam atas agama-agama dan system hidup lainnya. Al-Qur’an menggunakan istilah “liyuzh-hirahu dari kata zhahara-yuzh-hiru, yang makna asalnya adalah menampakkan, menzhahirkan atau melahirkan. Istilah ini sangat pas untuk menepis kesan negative yang beredar di masyarakat bahwa pemenangan itu berarti mengalahkan, menggusur, meniadakan, menghancurkn, atau kesan negative lainnya. Ibarat lmpu penerang, bisa jadi agama atau system hidup lainnya itu adalah lampu dengan kekuatan 75 watt. Untuk mengalahkannya tidak harus mematikan atau menutupi lampunya, akan tetapi cukup dengan mendatangkan lampu yang mempunyai daya yang lebih besar, 300 watt atau 500 watt, maka dengan sendirinya lampu 75 watt itu menjadi tidak berarti. Demikianlah perumpamaan “Liyuzh-hirahu ‘aladdiini kullih”. Dengan makna seperti itu maka sebenarnya tidak ada orang atau pihak-pihak lain yang dirugikan. Kemenangan seperti itu adalah kemenangan sejati, sebuah kemenangan yang tidak saja bisa dinikmati secara ekslusif oleh pemiliknya, tapi juga secara inklusif oleh semua orang. itulah makna lain dari rahmatn lil ‘alamin (rahmat bgi seluruh alam) dan kaffatan linnaas (melingkupi seluruh manusia). Itulah misi islam yang sebenarnya. Pemahaman seperti itu akan semakin jelas manakala dihubungkan dengan firman Allah yang artinya :] “Dan kataknlah: ‘yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (Al-Israa : 81). Ketika dunia dikuasai oleh kegelapan (agama atau system lainnya), maka bukanlah berteriak-teriak mengusir kegelapan itu yang dibuktikan dunia. Dunia lebih membutuhkan adanya orang-orang yang menyalakan lampu islam, maka secara otomatis lampu agama dan system hidup lainnya akan menjadi redup. Sebodoh-bodoh orang pasti akan mampu membedakan mana yang terang dan mana yang redup mereka pasti dapat membedakan antar cahaya dan kegelapan. Allah berfirmn yang artinya : “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat? Atau samakah gelap gulita dan terang benderang?” (Ar-ra’d : 16). Islam adalah cahaya, nur atau lampu penerang. “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.” (Al-Maa-idah : 15). Cahaya itu memiliki daya dan kekuatan yang luar biasa karena asalnya dari dzat yang memiliki sifat An-Nuur, sebagaimana firman-Nya : “Allah (pemberi) cahaya kepada langit dan bumi perumpamaan cahaya Allah walaupun tidak disentuh api. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehndaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (An-Nuur : 35). Sayangnya, cahaya yang hebat itu telah kita tutup rapat. Ibarat matahari yang memiliki daya penerang yang luar biasa tertutupi cahayanya oleh awan. Ironisnya awan itu bukan siapa-siapa, tapi umat islam sendiri. Umat islam yang seharusnya bisa memantulkan cahaya justru menjadi penutupnya. Akibatnya, umat islam sendiri kegelapan. Apalagi orang-orang diluar islam. Selama ini ada yang salah pada diri ummat isla. Kebanyakan mereka sibuk hanya meneliti lampunya, tapi lupa memanfaatkan lampu tersebut untuk menerangi jalan agar dirinya dan orang lain terbimbing di jalan yang benar. Akibat terlalu sibuk meneliti lampu itu mereka malah justru terlibat banyak dalam perselisihan. Mata mereka akhirnya juga ikut rabun. Sangat disayangkan, praktik seperti itu masih terus berlangsung hingga kini. Sudah saatnya ummat islam mengubah pandangannya,dari sekedar asyik meneliti kehebatan lampu beralih pada pemanfaatan lampu. Bagaimana kita fokuskan perhatian kit untuk memanfaatkan islam dalam menyorot berbagai persoalan hidup yang actual. Bukankah dalam hidup yang sebntar ini kita diberi amanah untuk menjadi khalifah, pemimpin. Disamping sibuk hanya meneliti lampunya, rupanya ummat islam juga terlalu sibuk memikirkan pihak-pihak lain. Mereka tampaknya kurng menyadari, sesungguhnya letak permasalahannya itu ada pada diri ummat islam sendiri. Adalah wajar jika para musuh islam berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan api islam. Akan tetapi jika kita kuat memegangnya, sesungguhnya tidak ada masalah lagi. Adalah sunatullah jika kaum kafir selalu memusuhi ummat islam . biarkan mereka menjalankan tugasnya, sedang kita menjalankan tugas kita sendiri. Dalam kaitan iniAllah member bimbingan kepada Nabi Muhammad SAW yang tentu saja juga kepada kita, kaum muslimin allah berfirman : “Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.” (Al-Muzzamil :11). Sudah saatnya kini ummat islam lebih bersungguh-sungguh memperhatikan diri sendiri, memaksimalkan kapasitas dan kompetensinya dalam membawa cahaya islam. Program ini memang jangka panjang. Dibutuhkan keteguhan dan kesabaran. Sabar bukan berarti pasif, menunggu atau menerima apa saja yang menimpa pada diri kaum muslimin. Akan tetapi sabar yang dimaksudkan pada ayat ini adalah tidak tergesa-gesa, teliti dalam menyusun program, hati-hati dalam merespon perkembangan dan tidak mudah terpancing provokasi, serta tidak terlalu cepat berharap hasil. Janji-janji kemenangan Allah sudah pasti, tetapi terlalu banyak diantara kita yang tidak sabar menanti. Seolah mereka memaksakan Allah untuk segera memenuhi janji-Nya, sementara mereka belum juga memenuhi kualifikasi untuk menerima kemenangan itu sendiri. Islam dari sononya adalah produk yang unggul, terbaik dan tiada yang dapat menandingi,. Rasulullah menegaskan dalam sabdanya, “ Islam itu tinggi, tiada yang menandingi”. Persoalnya, bagimana cara memasarkan produk unggul tersebut, bagaimana cara meyakinkan orang, da bagaimana membantu jaringan pemasaran yang luas sehingga setiap muslim menjadi distributor berskala internasional, agen professional atau paling tidak pemasar eceran yang efektif. Itulah yang menjadi tugas para Nabi dan Rasul ketika mereka sudah tidak ada, maka tugas itu kemudian beralih kepada kaum muslimin sebagai penerus risalahnya. Tugas meyakinkan orang tentang kehebatan islam sudah sejak lama dirintis para pendahulu kita dengan membangun slogan-slogan yang hebat dan meyakinkan. Tugas itu sudah cukup dengan hasil yang luar biasa, seperti tumbuhnya keyakinan dan kepercayaan diri ummat islam, lahirnya generasi muda millitan dan munculnya berbagai gerakan islam yang lebih percaya diri. Akan tetapi tugas itu belum selesai, islam tidak cukup dibangun dan dipasarkan dengan slogan. Adalah tugas kita saat ini untuk lebih menerjemahkan slogan-slogan itu dalam realitas hidup, dalam praktik dan kehidupan sehari-hari. Di kutip dari Majalah Hidayatullah Edisi Oktober 2003.

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: